BOGOR, 24 Agustus 2026 — Guna memastikan nihil kecelakaan (zero accident) di lapangan, PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pendidikan dan Pelatihan (UPDL) Bogor sukses menggelar program pembelajaran dan praktik lapangan Teknik Pengawasan Keselamatan Ketenagalistrikan (K2) dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Pekerjaan Distribusi Angkatan 8. Kegiatan krusial yang melibatkan teknisi dan Team Leader dari berbagai unit di bawah naungan Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat ini, diselenggarakan sejak tanggal 18 hingga 21 Agustus 2026 di PLN UPDL Bogor.
Program ini dirancang khusus untuk menajamkan analisis risiko dan kepatuhan prosedur para pengawas lapangan. Pada sesi praktik lapangan, para peserta secara langsung disimulasikan untuk melakukan gelar peralatan dan inspeksi ketat terhadap Alat Pelindung Diri (APD) tingkat lanjut. Pengecekan mencakup kelaikan full body harness, helm keselamatan berbahan insulasi, ketersediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), hingga kesiapan prosedur emergency response sebelum para pekerja berinteraksi langsung dengan jaringan distribusi.


Suasana pra-inspeksi dan safety briefing oleh instruktur kepada peserta Pelatihan Pengawasan K2/K3 Distribusi di PLN UPDL Bogor
Manager PLN UPDL Bogor, Ahmad Ridani, menekankan bahwa disiplin absolut pada tahap persiapan adalah kunci utama dalam mencegah insiden fatal di lapangan kerja PLN terutama bekerja pada Area Resiko Ekstrem / Area Ketinggian.
“Pra-inspeksi kelengkapan safety adalah garis pertahanan pertama kita. Sebelum para peserta atau petugas melakukan pekerjaan dan praktik dengan tingkat risiko tinggi atau ekstrem, wajib hukumnya untuk memastikan seluruh kelengkapan keselamatan sudah diperiksa dan dinyatakan layak pakai. Tidak ada toleransi untuk kelalaian dalam fase inspeksi ini,” tegas Ridani.
Lebih lanjut, Ridani juga meneruskan instruksi strategis dari PLN pusat terkait budaya keselamatan korporat yang tidak bisa ditawar.
“Sesuai arahan dari General Manager PLN Pusdiklat, Y Endah Cahyaningrum, kami memegang prinsip bahwa semua praktikum maupun eksekusi lapangan dengan risiko tinggi atau ekstrem harus diidentifikasi terlebih dahulu potensinya. Setelah bahaya terpetakan dengan baik, maka pelaksanaannya wajib dilaksanakan secara safety dan diawasi dengan ketat,” tambahnya.
Selama empat hari pelatihan, para peserta digembleng secara komprehensif oleh instruktur Sumardiono, meliputi materi Behavior Based Safety (BBS), regulasi pengawasan, hingga penyusunan Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) serta Job Safety Analysis (JSA).
Melalui pelatihan intensif ini, PLN menargetkan para alumnus pengawas K2/K3 pada pekerjaan Distribusi Angkatan 8 ini mampu menjadi garda terdepan di unit asalnya masing-masing. Mereka diharapkan dapat mengawal keandalan pasokan listrik, sembari memastikan setiap petugas yang pergi bekerja dapat pulang kembali ke keluarganya dengan selamat.
