Perjalanan Desa Kutamaneuh Membangun Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Bersama Coca-Cola Europacific Partners Indonesia dan Filantra

Perjalanan Desa Kutamaneuh Membangun Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Bersama Coca-Cola Europacific Partners Indonesia dan Filantra
Mitra : PT Coca-Cola Europacific Partners Indonesia

Industri : Makanan dan Minuman

Tujuan : Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta kapasitas masyarakat Desa Kutamaneuh dalam mengelola sampah rumah tangga secara lebih terstruktur, partisipatif, dan berkelanjutan. Melalui kegiatan edukasi, pelatihan, serta penyediaan sarana pendukung, masyarakat didorong untuk terlibat aktif dalam pemilahan sampah sejak dari rumah serta memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna melalui penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle. Inisiatif yang dilaksanakan melalui kolaborasi antara Coca-Cola Europacific Partners Indonesia dan Filantra ini diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi masyarakat melalui pengelolaan sampah yang lebih produktif.

Tantangan

Pelaksanaan Program Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Desa Kutamaneuh menghadapi beberapa tantangan, antara lain:

  • Kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.
  • Masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
  • Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
  • Perlunya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle.
  • Perlunya penguatan kolaborasi antara masyarakat dan para pemangku kepentingan, termasuk Coca-Cola Europacific Partners Indonesia bersama Filantra, agar program dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.

Solusi

Berdasarkan rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan dalam Program Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Desa Kutamaneuh, beberapa langkah solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sampah di tingkat masyarakat adalah sebagai berikut:

  • Penguatan kelembagaan Bank Sampah dilakukan melalui pelatihan manajemen bank sampah serta penyediaan sistem administrasi seperti buku besar dan buku tabungan nasabah guna mendukung pengelolaan yang lebih tertib dan transparan.
  • Penyediaan sarana dan prasarana operasional dilakukan melalui pembangunan gudang operasional bank sampah serta penyediaan perlengkapan seperti timbangan, karung pilah, alat tulis kantor, meja kursi, dan alat pelindung diri bagi pengurus.
  • Peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah dilakukan melalui pelatihan pengolahan sampah organik menggunakan metode maggot, pembuatan kompos, eco enzyme, biopori, serta penggunaan komposter rumah tangga.
  • Peningkatan kesadaran masyarakat dilakukan melalui kegiatan sosialisasi di beberapa dusun yang bertujuan memberikan pemahaman mengenai jenis sampah, pemilahan sampah, serta perbedaan antara sampah produktif dan non produktif.
  • Pengembangan pengolahan sampah organik dilakukan melalui penyediaan fasilitas rumah maggot sebagai sarana pengolahan sampah organik rumah tangga sehingga dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke lingkungan.
  • Integrasi program lingkungan dengan kegiatan ekonomi produktif dilakukan melalui penyediaan kolam lele bioflok yang dimanfaatkan sebagai kegiatan budidaya oleh pengurus bank sampah.
  • Pendampingan operasional program dilakukan melalui kegiatan penimbangan sampah secara berkala serta pengelolaan hasil sampah terpilah hingga tahap penjualan kepada pengepul.

Dampak Program : 

Pelaksanaan program ini memberikan berbagai dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan di Desa Kutamaneuh. Dampak tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:

  • Pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan sampah rumah tangga meningkat melalui berbagai kegiatan pelatihan dan sosialisasi yang telah dilaksanakan.
  • Terbentuknya sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui operasional Bank Sampah Kutamaneuh sebagai wadah pengelolaan sampah di tingkat desa.
  • Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah mulai meningkat setelah adanya sosialisasi mengenai jenis sampah serta pemanfaatan sampah yang memiliki nilai ekonomi.
  • Sampah yang sebelumnya dibuang langsung ke lingkungan kini mulai dipilah, dikumpulkan, dan dimanfaatkan kembali melalui kegiatan bank sampah maupun pengolahan sampah organik.
  • Penjualan sampah anorganik yang telah dipilah menghasilkan pendapatan sebesar Rp 818.750 yang menjadi pemasukan awal bagi operasional Bank Sampah Kutamaneuh.
  • Budidaya lele bioflok yang dikembangkan dalam program ini telah menghasilkan panen awal sekitar ±10 kg dengan masa budidaya sekitar 2–3 bulan.
  • Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan Coca-Cola Europacific Partners Indonesia terbentuk dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan di Desa Kutamaneuh.

Relevansi SDGs : 

Program Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Desa Kutamaneuh yang didukung oleh Coca-Cola Europacific Partners Indonesia berkontribusi terhadap pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Keterkaitan program dengan tujuan SDGs dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • SDGs 11 – Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities)
    Program ini mendukung terciptanya lingkungan permukiman yang lebih berkelanjutan melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kegiatan seperti sosialisasi pemilahan sampah, operasional bank sampah, serta pengolahan sampah organik membantu mengurangi dampak negatif sampah rumah tangga terhadap lingkungan permukiman.
  • SDGs 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production)
    Program ini mendorong masyarakat untuk menerapkan pola konsumsi dan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Melalui kegiatan pemilahan sampah, penjualan sampah anorganik, serta pengolahan sampah organik menggunakan metode maggot, masyarakat didorong untuk memanfaatkan kembali sampah yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
  • SDGs 13 – Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action)
    Pengelolaan sampah yang lebih baik berkontribusi dalam mengurangi pencemaran lingkungan serta potensi emisi yang dihasilkan dari penumpukan sampah. Melalui pengolahan sampah organik dan pengurangan sampah yang dibuang ke lingkungan, program ini turut mendukung upaya mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal.

Menguatkan Pengelolaan Lingkungan, Mendorong Kemandirian Masyarakat

Melalui Program Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Desa Kutamaneuh, Kabupaten Karawang, berbagai inisiatif dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah secara berkelanjutan. Program ini diwujudkan melalui pembentukan dan penguatan Bank Sampah, pembangunan gudang operasional, penyediaan sarana prasarana penunjang, serta pelaksanaan berbagai kegiatan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat mengenai pemilahan dan pengolahan sampah.

Selain itu, program juga mendorong pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot serta pengembangan kegiatan ekonomi produktif seperti budidaya lele bioflok. Upaya ini tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi timbulan sampah rumah tangga, tetapi juga membuka peluang nilai ekonomi bagi masyarakat melalui pengelolaan sampah yang lebih terstruktur.

Bersama Filantra, berbagai inisiatif sosial dan lingkungan dapat terus diperluas melalui kolaborasi yang berdampak. Mari berkolaborasi bersama Filantra untuk menghadirkan lebih banyak program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan, serta menciptakan dampak nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.