Perahu Listrik untuk Nelayan Desa Pananjung

Mitra: PT PLN (Persero) Pusat Pemeliharaan Ketenagalistrikan (Pusharlis)

Industri: Energi (Ketenagalistrikan)

Tujuan

Program Electrifying Marine Nelayan Desa Pananjung, inisiatif PT PLN (Persero) Pusat Pemeliharaan Ketenagalistrikan (Pusharlis) dalam rangka Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), bertujuan meningkatkan produktivitas dan menekan biaya operasional melaut Kelompok Nelayan Desa Pananjung, Kabupaten Pangandaran. Program dilaksanakan melalui konversi perahu nelayan dari mesin berbahan bakar minyak menjadi motor listrik berbasis baterai, dilengkapi fasilitas cold storage, stasiun pengisian daya, serta edukasi energi bersih, sebagai upaya mempercepat transisi energi yang lebih ramah lingkungan di sektor kelautan.

Tantangan

  • Nelayan merupakan penggerak utama perekonomian pesisir, namun sebagian besar masih menghadapi keterbatasan dalam beralih ke energi yang lebih bersih dan efisien. Tantangan utama yang dijawab oleh program ini adalah:
  • Tingginya biaya operasional melaut akibat ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) membebani pendapatan nelayan.
  • Emisi gas buang dan kebisingan dari mesin perahu tradisional berdampak pada ekosistem laut dan menjadi hambatan menuju target net zero emissions Indonesia pada 2060.
  • Akses terhadap teknologi ramah lingkungan dan infrastruktur pendukung, seperti sarana pengisian daya dan penyimpanan dingin untuk menjaga kualitas hasil tangkapan, masih terbatas.
  • Kemampuan adaptasi nelayan terhadap inovasi baru, terutama pengelolaan daya baterai, perlu diperkuat melalui pendampingan dan transfer pengetahuan.

Solusi

PT PLN (Persero) Pusharlis, bekerja sama dengan Filantra, meluncurkan program ini pada tanggal 26 Juni 2025 di pesisir Desa Pananjung, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dengan periode program 1 Juni–30 November 2025 dan pemantauan pemanfaatan hingga pertengahan 2026. Program memadukan teknologi perahu listrik dengan infrastruktur pendukung dan edukasi. 

  • Konversi perahu listrik 2 paket motor BLDC 8 kW 96 Volt lengkap dengan kontroler, baterai LiFePO4 72 V 100 Ah dengan smart BMS, dan wiring harness. Mesin 15 PK konvensional disediakan sebagai penggerak cadangan untuk menjamin keamanan nelayan selama masa transisi teknologi.
  • Stasiun pengisian daya, 3 paket charger 25 A fast charging 96 Volt dan 1 paket penambahan daya listrik di pangkalan nelayan untuk mendukung pengisian baterai dan operasional fasilitas pendukung.
  • Cold storage listrik, 3 paket fasilitas penyimpanan dingin untuk menjaga kesegaran dan nilai jual hasil tangkapan, yang juga dimanfaatkan untuk memproduksi es batu secara mandiri.
  • Branding perahu 2 paket identitas visual “Electrifying Marine PLN Pusharlis” sebagai penanda perahu binaan program TJSL PLN.
  • Sosialisasi dan edukasi, pada 4 Maret 2026, 10 perwakilan nelayan mendapat tutorial penggunaan Electric Boat, prosedur pengoperasian, aspek keselamatan, serta materi Green Energy dan Electrical Lifestyle, diakhiri pre-test dan post-test.
  • Melakukan uji coba bertahap, perahu diuji dalam dua tahap untuk menyempurnakan performa dan kemudahan pengoperasian, termasuk pengembangan konsep kendali “matic” (hanya tarikan maju dan mundur) agar lebih mudah diadaptasi nelayan.

Peluncuran dihadiri jajaran manajemen PLN Pusharlis, yakni perwakilan Senior Manager Keuangan, Komunikasi dan Umum serta Manager TJSL & KKU bersama tim, bersama Polairud, TNI AL, Camat Pangandaran, Kepala Desa Pananjung, Ketua Nelayan Tangkap, dan Ketua Perahu Pesiar. Rangkaian acara mencakup sambutan, serah terima simbolis perahu konversi dan cold storage, serta demonstrasi perahu listrik.

(Dokumentasi Program Electrifying Marine Nelayan Desa Pananjung)

Dampak

Program ini membantu kelompok nelayan Desa Pananjung memasuki era melaut berbasis listrik, antara lain:

  • 13 nelayan Kelompok Nelayan Desa Pananjung menerima manfaat dari 9 jenis bantuan yang diserahterimakan secara resmi.
  • Perahu listrik terbukti dapat beroperasi: pada uji coba pertama, perahu mencapai kecepatan sekitar 15–20 km/jam dengan 8 penumpang saat laut relatif tenang, dan pada uji coba kedua performa tarikan meningkat dengan putaran motor hingga sekitar 6.000 RPM. Catatan perbaikan dari kedua uji coba menjadi dasar penyempurnaan sistem.
  • Cold storage dimanfaatkan untuk menyimpan sekitar 897 kg hasil laut selama Juli 2025–Maret 2026, sekaligus memberikan manfaat ganda sebagai sarana produksi es batu yang mulai mencatatkan pendapatan bersih positif pada Maret–Mei 2026.
  • Pendapatan kelompok nelayan tercatat meningkat dari Rp2,48 juta pada Juli 2025 menjadi Rp5,05 juta pada Desember 2025, meskipun masih fluktuatif akibat cuaca ekstrem dan belum masuknya musim panen ikan.
  • Edukasi meningkatkan pemahaman energi bersih: rata-rata nilai peserta naik dari 80 menjadi 84,4, dengan tiga peserta mencatat kenaikan nilai 10–20 poin.
  • Evaluasi program melahirkan langkah lanjutan, yakni diversifikasi pemanfaatan cold storage, integrasi informasi prakiraan cuaca maritim dalam pengelolaan kelompok, dan penguatan kelembagaan kelompok agar program berjalan mandiri (self-sustaining).

Relevansi SDGs

SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau

Program menghadirkan solusi energi listrik yang efisien dan berkelanjutan sebagai pengganti bahan bakar minyak bagi armada nelayan, lengkap dengan infrastruktur pengisian daya di pangkalan nelayan.

SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Dengan menekan ketergantungan pada BBM dan menyediakan cold storage serta peluang usaha es batu, program mendukung peningkatan margin pendapatan dan taraf hidup nelayan setempat.

SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim

Penggunaan motor listrik pada perahu nelayan mendukung upaya mengurangi emisi gas buang dan jejak karbon dari sektor kelautan dan perikanan.

SDGs 14: Ekosistem Laut

Berkurangnya polusi suara serta resiko tumpahan minyak dari mesin konvensional membantu menjaga habitat bawah air dan kelestarian ekosistem perairan Pangandaran.

Melalui program ini, PT PLN (Persero) Pusat Pemeliharaan Ketenagalistrikan bersama Filantra memberikan dukungan nyata kepada nelayan Desa Pananjung, Kabupaten Pangandaran, sebagai bagian dari upaya mewujudkan sektor kelautan yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.